Kita mengenal Mohammad Yamin sebagai tokoh Sumpah Pemuda dan sastrawan ulung. Namun, dalam kacamata sejarah, Yamin punya peran yang jauh lebih kompleks: ia adalah seorang “Arsitek Imajinasi”. Saat bangsa ini baru lahir dan butuh alasan untuk bersatu, Yamin hadir dengan narasi besar tentang kejayaan masa lalu yang megah, meski terkadang ia harus menarik garis terlalu jauh antara fakta arkeologis dan ambisi politik.
Membangun “Wajah” Gajah Mada
Pernahkah lu bertanya, dari mana asal usul wajah Gajah Mada yang ada di buku sekolah atau patung-patung? Faktanya, tidak ada satu pun prasasti atau artefak yang mencatat rupa fisik sang Mahapatih. Wajah tegas yang kita kenal sekarang adalah hasil imajinasi Yamin. Konon, ia menggunakan fragmen terakota yang ia temukan di Trowulan, lalu “memolesnya” hingga menyerupai wajahnya sendiri sebagai representasi kekuatan. Inilah contoh bagaimana Yamin membangun simbol dari kekosongan data.

Majapahit dan “Negara Nasional” Kedua
Yamin adalah orang yang mempopulerkan istilah bahwa Indonesia adalah kelanjutan dari Majapahit. Baginya, Majapahit adalah “Negara Nasional” kedua setelah Sriwijaya. Demi membangkitkan kebanggaan nasional, Yamin seringkali meluaskan klaim wilayah kekuasaan Majapahit melampaui apa yang dicatat dalam kitab Nagarakretagama. Ia butuh sebuah “Imperium” masa lalu untuk melegitimasi luas wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Baca Juga Artikel: Majapahit: Imperium Besar yang Runtuh karena Luka Dalam yang Tak Pernah Sembuh
Antara Kepentingan Politik dan Kebenaran Sejarah
Kita tidak bisa menghakimi Yamin sepenuhnya. Pada masa itu, Indonesia butuh “lem” untuk merekatkan suku-suku yang berbeda. Yamin menggunakan sejarah sebagai alat pemersatu. Masalah muncul ketika narasi romantis ini ditelan mentah-mentah sebagai kebenaran mutlak tanpa kritik. Akibatnya, banyak “luka” sejarah seperti Peristiwa Bubat, yang sengaja dipinggirkan agar narasi kejayaan tetap terlihat mulus tanpa cela.
Baca Artikel : Benarkah Sejarah Ditulis Oleh Pemenang?
Mohammad Yamin adalah bukti bahwa sejarah seringkali bukan soal apa yang benar-benar terjadi, tapi soal apa yang ingin kita ingat. Ia berhasil memberi kita kebanggaan, namun tugas kita sekarang adalah memisahkan mana yang fakta tanah (arkeologi) dan mana yang imajinasi pena. Di Penakarsa, kita menghormati jasanya, tapi tetap menjaga nalar untuk tidak terjebak dalam mitos yang berlebihan.
