Ambisi dan Darah
Semua dimulai dari sebuah sumpah. Gajah Mada, sang Mahapatih, membelah langit Nusantara dengan ambisi penyatuan yang luar biasa: Sumpah Palapa. Di bawah panji Majapahit, kepulauan ini ingin disatukan dalam satu komando. Namun, sejarah sering lupa mencatat bahwa setiap penyatuan paksa selalu menyisakan tetesan darah yang kelak menjadi nanah.
Tragedi Bubat dan Ego Sang Pemenang
Sekitar tahun 1357 M, ambisi itu menabrak tembok bernama kehormatan. Dyah Pitaloka Citraresmi, putri dari Kerajaan Sunda, datang bukan untuk ditaklukkan, tapi untuk sebuah pernikahan politik yang seharusnya membawa damai. Namun, bagi Gajah Mada, diplomasi adalah ketundukan.

Tragedi Bubat pecah. Dyah Pitaloka memilih mengakhiri hidupnya sendiri daripada menjadi upeti. Inilah “Luka Luar” pertama. Majapahit mungkin memenangkan wilayah, tapi mereka kehilangan kepercayaan saudara serumpunnya. Luka ini tidak pernah sembuh; ia menjadi trauma sejarah yang membuat stabilitas Nusantara mulai retak di bawah permukaan.
Baca Juaga Artikel : Benarkah Sejarah Ditulis Oleh Pemenang?
Luka Kedua: Putri Campa dan Erosi dari Dalam
Majapahit tidak runtuh dalam semalam. Ia mati perlahan karena luka dalam yang tak pernah sembuh, dimulai dari tetesan darah di lapangan Bubat, hingga bisikan perubahan di balik tirai kamar sang raja.
Melompat ke abad ke-15, sekitar 100 tahun setelah darah Dyah Pitaloka kering, muncul sosok Putri Campa. Jika Dyah Pitaloka adalah luka karena benturan fisik dan ego di luar istana, Putri Campa sering dianggap sebagai simbol “Luka Dalam”.
Kedatangannya membawa angin baru ke jantung kekuasaan Prabu Brawijaya V. Bukan lewat senjata, tapi lewat bisikan dan pengaruh di balik tirai kamar raja. Munculnya faksi-faksi baru, pergeseran kepercayaan, hingga lahirnya Raden Patah, adalah bukti bahwa Majapahit sedang mengalami erosi identitas. “Rumah” besar ini runtuh bukan karena diserbu bangsa asing, tapi karena penghuninya sudah tidak lagi mengenali jati dirinya sendiri.
Jeda waktu 100 tahun dan Imajinasi Yamin
Setelah era Hayam Wuruk dan Gajah Mada, Majapahit seolah membeku dalam kemegahan yang mulai rapuh. Di sinilah letak keunikan sejarah kita. Selama ratusan tahun, kekosongan informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi sering kali diisi oleh narasi-narasi romantis.
Membedah bagaimana Mohammad Yamin “menjahit” potongan-potongan sejarah Majaphit yang hilang ini menjadi sebuah kebanggaan nasional. Namun, di balik narasi kejayaan yang digaungkan Yamin, ada realitas pahit yang sedang menggerogoti Majapahit dari dalam, sebagai “Luka yang tak pernah sembuh“.
Menjaga Nalar di Balik Reruntuhan
Majapahit bukan sekadar kisah kejayaan seperti di film-film fantasi seperti Lord of The ring. Bukti sejarah di situs Trowulan tak terbantahkan. Ia adalah pelajaran tentang bagaimana sebuah kekuatan besar bisa hancur karena gagal mengobati luka-lukanya sendiri. Dari ego Gajah Mada hingga intrik di era Putri Campa, kita belajar bahwa musuh paling berbahaya adalah “Musuh dalam Selimut” dan “Luka yang Tak Pernah Sembuh”.
Baca Artikel : Ketika Waktu Mengubah Kebenaran
Jadi, apakah kita akan terus memuja mitos kejayaan, atau berani membedah luka-luka ini agar tidak terulang kembali? kita tetap bangga, karena pernah ada sebuah kerajaan besar di Nusantara, tapi jangan hanya kagum dengan eforia kebesaranya, kita juga harus berani membedah fakta dan menjaga nalar, bahwa ada luka yang membuatnya runtuh. sebagai bagian yang disenyapkan untuk kepentingan tertentu.
Kita tidak sedang merendahkan kebesaran Majapahit, kita sedang belajar jujur pada sejarah. Karena bangsa yang besar bukan yang punya masa lalu paling sempurna, tapi yang paling berani mengakui luka-lukanya.
