Tak Lagi Syahdu? Menggugat Memudarnya Esensi Ramadhan di Tengah Hiruk Pikuk Media Sosial
Pernahkah Anda merasa sedang i’tikaf, tapi jempol justru sibuk scrolling feed Instagram? Atau saat adzan maghrib berkumandang, fokus kita bukan lagi pada segelas air, melainkan mencari sudut foto aesthetic untuk diunggah ke Story? Apakah Ramadhan kita masih tentang koneksi dengan Sang Pencipta, atau sekadar konten untuk sesama manusia?
Ramadhan dan Digitalisasi: Antara Syiar dan Pamer Ibadah
Di satu sisi, digitalisasi memudahkan kita mengakses jadwal imsakiyah hingga kajian subuh secara streaming. Namun, ada garis tipis yang sering terlanggar antara menyebarkan kebaikan (syiar) dengan jebakan riya digital. Esensi Ramadhan yang seharusnya menjadi momen “detoksifikasi” jiwa seringkali kalah oleh rasa haus akan validasi publik.
Ketika setiap momen sedekah harus difilmkan dan setiap rakaat tarawih dilaporkan lewat status, kita perlu bertanya: di mana letak keikhlasan yang tersembunyi? Jangan sampai kita terjebak dalam rutinitas menjaga kesehatan mental saat puasa namun lupa menjaga kesehatan niat di dalam hati.
Baca Juga Artikel : Kebebasan Digital
Fenomena FOMO dan Hilangnya Keheningan Malam
Ramadhan seharusnya menjadi waktu untuk refleksi dan keheningan. Namun, di era media sosial, muncul fenomena FOMO (Fear of Missing Out). Kita merasa tertinggal jika tidak ikut tren war takjil yang viral atau tidak hadir di setiap acara buka bersama yang mentereng.
Keheningan malam yang dulunya diisi dengan tadarus kini sering tergantikan oleh kebisingan notifikasi. Kita lebih sibuk membalas komentar daripada merenungkan ayat. Padahal, inti dari bulan suci ini adalah membatasi diri dari hal duniawi agar bisa lebih fokus pada makna spiritual puasa yang sesungguhnya.

Mengembalikan Esensi di Tengah Distraksi
Digitalisasi bukanlah musuh, namun ia adalah alat yang butuh kendali. Kita tidak perlu menghapus media sosial sepenuhnya, melainkan melakukan “diet digital” selama bulan suci. Cobalah untuk menetapkan jam khusus menggunakan ponsel agar waktu utama kita tetap milik Tuhan dan keluarga. Mari kita kembalikan Ramadhan sebagai ruang pribadi antara hamba dan Pencipta, bukan panggung sandiwara untuk pengikut di dunia maya.
Download : Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1447 Hijriyah – 2026 | Untuk Wilayah jakarta dan Sekitarnya
“Jadwal di atas adalah pengingat waktu berbuka, namun jangan biarkan layar ponsel membuat kita lupa pada siapa kita sedang menghadap saat waktu mustajab itu tiba.”
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda punya tips khusus untuk membatasi screen time selama Ramadhan? Yuk, berbagi inspirasi di kolom komentar agar kita bisa sama-sama kembali ke esensi! Tuliskan pendapat jujur Anda di kolom komentar: menurut Anda, apakah media sosial membantu atau justru merusak kekhusyukan ibadah tahun ini?
