Tokoh Pergerakan Buruh yang Hilang dari Sejarah Resmi

Tokoh Pergerakan Buruh yang Hilang dari Sejarah Resmi

Nama yang Jarang Disebut, Peran yang Tidak Kecil

Buruh selalu ada dalam sejarah pergerakan Indonesia, ada nama-nama yang terus diulang, diperingati, dan dijadikan simbol nasional. Namun, ada pula nama yang perlahan menghilang dari ingatan publik—bukan karena perannya kecil, melainkan karena kisahnya tidak pernah benar-benar diceritakan. Salah satu nama itu adalah Semaun.

Bagi banyak generasi hari ini, Semaun hampir tidak dikenal. Ia jarang disebut dalam buku pelajaran, minim dibahas dalam diskusi sejarah populer, dan nyaris absen dari narasi resmi. Padahal, perannya dalam pergerakan buruh dan organisasi rakyat di masa kolonial termasuk yang paling awal dan paling berpengaruh.

Keheningan terhadap Semaun bukan kebetulan. Ia adalah contoh bagaimana sejarah bisa memilih untuk diam.

Semaun dan Awal Gerakan Buruh di Indonesia

Semaun lahir dari latar belakang rakyat biasa dan tumbuh dalam realitas kolonial yang menindas. Ia terlibat aktif dalam Sarekat Islam, sebuah organisasi besar yang pada awal abad ke-20 menjadi wadah kesadaran politik rakyat, terutama kaum pekerja dan pedagang kecil.

Di dalam Sarekat Islam, Semaun dikenal sebagai tokoh yang dekat dengan basis buruh. Ia menyuarakan kepentingan kelas pekerja, menyoroti ketimpangan sosial, dan mendorong kesadaran bahwa penindasan kolonial tidak hanya bersifat politik, tetapi juga ekonomi. Pada masa itu, gagasan tentang hak buruh dan perjuangan kelas masih dianggap radikal dan berbahaya oleh penguasa kolonial.

Melalui aktivitas organisasi dan tulisan-tulisannya, Semaun membantu membangun fondasi awal gerakan buruh di Indonesia—sebuah aspek penting pergerakan nasional yang sering luput dari perhatian.

Ideologi, Perjuangan, dan Ketakutan Kekuasaan

Semaun tidak bisa dilepaskan dari perdebatan ideologi. Kedekatannya dengan gagasan kiri dan sosialisme membuat namanya sejak awal berada dalam radar kekuasaan, baik kolonial maupun pasca-kemerdekaan. Di satu sisi, ideologi memberinya kerangka berpikir untuk memahami ketidakadilan struktural. Di sisi lain, ideologi yang sama menjadi alasan utama mengapa namanya kemudian disisihkan.

Dalam sejarah resmi, ideologi sering kali diperlakukan secara hitam-putih. Tokoh yang dianggap “tidak sejalan” lebih mudah dihapus daripada dijelaskan secara utuh. Semaun, dengan gagasan dan sikap politiknya, termasuk tokoh yang tidak nyaman untuk dirapikan dalam narasi nasional yang rapi dan aman.

Akibatnya, kontribusinya dalam pergerakan buruh dan kesadaran kelas pekerja jarang dibahas tanpa stigma

Dari Pemimpin Pergerakan ke Nama yang Menghilang

Perjalanan hidup Semaun tidak berakhir dengan pengakuan atau penghormatan. Ia mengalami pengasingan, hidup jauh dari pusat kekuasaan, dan perlahan tersingkir dari ingatan kolektif bangsa. Ketika sejarah Indonesia mulai dibakukan melalui kurikulum dan buku pelajaran, nama Semaun semakin jarang disebut.

Yang tersisa adalah sejarah versi ringkas: pergerakan nasional direduksi menjadi kisah beberapa tokoh besar, sementara dinamika buruh, rakyat kecil, dan perdebatan ideologis dipinggirkan. Dalam proses ini, Semaun berubah dari tokoh penting menjadi catatan kaki—atau bahkan tidak dicatat sama sekali.

Sejarah Resmi dan Pilihan untuk Melupakan

Kasus Semaun menunjukkan bahwa sejarah bukan sekadar kumpulan fakta, melainkan hasil dari pilihan. Sejarah resmi memilih narasi yang dianggap aman, stabil, dan mudah diterima. Tokoh-tokoh yang membawa kompleksitas, konflik, dan perbedaan pandangan sering kali disenyapkan.

Inilah yang kerap disebut sebagai politik lupa dalam sejarah Indonesia—sebuah mekanisme sunyi yang menentukan siapa yang layak dikenang dan siapa yang lebih baik dihilangkan. Dalam konteks ini, Semaun berada dalam barisan tokoh pergerakan yang nasibnya serupa dengan Tan Malaka dan beberapa tokoh lain yang tidak cocok dengan narasi dominan.

Gerakan Buruh dan Sejarah yang Tidak Utuh

Dengan melupakan Semaun, sejarah Indonesia kehilangan satu lapisan penting: sejarah perjuangan buruh. Padahal, tanpa memahami peran buruh dan organisasi rakyat, gambaran tentang pergerakan nasional menjadi timpang. Kita mengenal hasil akhir, tetapi tidak memahami dinamika sosial yang membentuknya.

Sejarah yang tidak utuh melahirkan pemahaman yang dangkal. Ia mengajarkan kepatuhan terhadap narasi, bukan keberanian untuk bertanya. Dalam kondisi seperti ini, tokoh seperti Semaun menjadi penting bukan untuk dipuja, tetapi untuk dibaca ulang secara kritis.


Baca Juga Artikel : Marsinah dan sejarah kekerasan terhadap gerakan buruh


Mengingat Semaun untuk Menjaga Nalar

Mengingat Semaun bukan berarti membenarkan semua gagasan atau pilihan politiknya. Penakarsa tidak menempatkan tokoh sebagai sosok tanpa cela. Sebaliknya, membaca ulang Semaun adalah upaya menjaga nalar agar tidak tumbuh dari sejarah yang disederhanakan.

Dengan memahami mengapa Semaun dihilangkan, kita belajar bahwa lupa bisa menjadi bagian dari kekuasaan. Sejarah yang sehat bukan sejarah yang sunyi dari perbedaan, melainkan sejarah yang berani mengakui kompleksitas dan konflik yang pernah ada.

Di tengah zaman yang kembali gemar menyederhanakan realitas, mengingat tokoh-tokoh seperti Semaun adalah bentuk perlawanan kecil: melawan lupa, menjaga nalar, dan membuka ruang bagi generasi mendatang dalam memahami sejarah yang lebih jujur.


Selama Ramadhan, Penakarsa terbit setiap Senin, Rabu, dan Jumat
ruang kecil untuk membedah fakta dan menjaga nalar secara perlahan dan konsisten.


error: Content is protected !!