Sejarah Indonesia sering kali digambarkan dalam garis hitam-putih yang kaku. Namun, jika kita menggali lebih dalam ke abad ke-18, kita akan menemukan kisah luar biasa tentang seorang perempuan etnis Tionghoa yang mengangkat senjata, memimpin pasukan, dan akhirnya dipersunting oleh bangsawan Jawa. Ia adalah Tan Peng Nio, sosok yang dijuluki sebagai “Mulan van Java”.
Mengapa nama Tan Peng Nio jarang muncul di buku teks sekolah? Apakah ada unsur kesengajaan untuk mengaburkan peran etnis Tionghoa dalam perjuangan melawan kolonialisme? Artikel ini akan mengupas tuntas riwayat sang pendekar perempuan dan relevansinya bagi persatuan bangsa.
Asal-Usul Tan Peng Nio: Dari Tiongkok ke Tanah Jawa
Kisah Tan Peng Nio bermula dari kekacauan di daratan Tiongkok pada masa Dinasti Qing. Ayahnya, Tan Wan Swee, adalah seorang jenderal perang yang gagal dalam pemberontakan melawan dinasti tersebut. Untuk menyelamatkan putrinya dari pengejaran, Tan Wan Swee mengirim Tan Peng Nio ke Singapura, yang kemudian membawanya mendarat di pesisir utara Jawa, tepatnya di Kaligawe, Semarang.
Di Jawa, Tan Peng Nio tidak datang sebagai pengungsi biasa. Ia membawa keahlian bela diri dan strategi perang yang diturunkan oleh ayahnya. Kehadirannya bertepatan dengan salah satu periode paling berdarah dalam sejarah kolonial: Geger Pacinan (1740).
Peran dalam Geger Pacinan dan Perang Kuning
Tragedi pembantaian etnis Tionghoa oleh VOC di Batavia pada tahun 1740 memicu perlawanan besar-besaran yang dikenal sebagai Perang Kuning. Dalam perang ini, terjadi fenomena unik yang jarang dibahas: aliansi erat antara laskar Tionghoa dan pasukan pribumi (Mataram) untuk menggempur benteng-benteng VOC.
Tan Peng Nio muncul sebagai sosok sentral dalam aliansi ini. Ia menyamar sebagai prajurit pria—mirip dengan legenda Hua Mulan—untuk dapat bergabung dalam barisan tempur. Di bawah komando Raden Mas Garendi (Sunan Kuning), Tan Peng Nio menunjukkan keberanian luar biasa dalam pertempuran di sepanjang pesisir utara hingga ke pedalaman Jawa Tengah.
Akulturasi dan Pernikahan dengan KRAT Kolopaking III
Setelah perang mereda dengan kekalahan pihak pemberontak akibat pengkhianatan internal di keraton, Tan Peng Nio mengungsi ke wilayah selatan, tepatnya ke daerah Kebumen (Panjer). Di sana, ia bertemu dengan Kanjeng Raden Adipati (KRAT) Kolopaking III, penguasa Kebumen saat itu yang juga menentang VOC.
Ketertarikan Kolopaking III bukan hanya karena kecantikan Tan Peng Nio, melainkan karena kecerdasan strategi dan ketangguhannya. Tan Peng Nio akhirnya dipersunting dan diberi gelar bangsawan Jawa, Raden Ayu (R.A.) Kolopaking. Ini adalah bukti nyata bahwa di masa lalu, sekat etnis bisa runtuh demi kepentingan perjuangan dan cinta yang didasari rasa hormat.
Mengapa Nama Tan Peng Nio Seolah “Dilupakan”?
Pertanyaan kritisnya adalah: Mengapa tokoh sehebat ini tidak setenar Cut Nyak Dhien atau Kartini? Ada beberapa faktor yang menyebabkan “pengaburan” sejarah ini:
1. Politik De-Sinikasi Era Kolonial
VOC dan kemudian pemerintah Hindia Belanda sangat takut pada aliansi Jawa-Tionghoa. Peristiwa Geger Pacinan membuktikan bahwa jika kedua etnis ini bersatu, kekuasaan Eropa di Nusantara akan runtuh. Oleh karena itu, narasi sejarah yang menonjolkan kerja sama lintas etnis sengaja diredam untuk memuluskan politik Divide et Impera.
2. Historiografi yang Terlokalisasi
Sosok Tan Peng Nio lebih banyak hidup dalam babad (catatan lokal) di wilayah Kebumen dan Banyumas. Dalam penulisan sejarah nasional yang cenderung “Jakarta-sentris” atau fokus pada tokoh-tokoh besar pria di era 1900-an, pahlawan perempuan dari abad ke-18 yang berasimilasi penuh dengan budaya lokal sering kali luput dari radar sejarawan pusat.
3. Asimilasi Total
Setelah menjadi istri bupati, Tan Peng Nio hidup sepenuhnya sebagai bangsawan Jawa. Makamnya di Desa Jatimulyo, Kebumen, memiliki gaya nisan Tionghoa (Cia-pwee) namun dengan ukiran gelar Jawa. Bagi sebagian orang, identitas Tionghoa-nya dianggap “melebur” sehingga ia lebih diingat sebagai leluhur keluarga Kolopaking daripada sebagai pahlawan etnis Tionghoa secara spesifik.
Baca Juga Artikel : Jugun Ianfu dan Luka yang Sengaja Dihapus
Makam Tan Peng Nio: Simbol Bhinneka Tunggal Ika
Hingga saat ini, makam Tan Peng Nio di Kebumen masih menjadi saksi bisu sejarah. Bentuk makamnya yang unik—perpaduan arsitektur makam Tionghoa dengan nuansa keraton Jawa—adalah simbol fisik dari akulturasi. Setiap tahun, masyarakat lokal dan keluarga besar Kolopaking melakukan ziarah, membuktikan bahwa ingatan tentangnya tidak benar-benar mati di akar rumput.

Relevansi Tan Peng Nio di Masa Kini
Menghidupkan kembali kisah Tan Peng Nio di blog sejarah Anda bukan sekadar tindakan romantis, melainkan upaya dekonstruksi sejarah. Kita perlu menyadari bahwa:
- Perjuangan kemerdekaan bukan milik satu golongan saja.
- Etnis Tionghoa telah menumpahkan darah di tanah ini jauh sebelum republik berdiri.
- Keberanian perempuan dalam perang adalah fakta sejarah yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.
Menulis tentang Tan Peng Nio membantu pembaca modern memahami bahwa identitas “Indonesia” adalah hasil dari proses panjang asimilasi, perjuangan bersama, dan pengorbanan tanpa memandang latar belakang etnis.
Penutup: Mengapa Kita Perlu Mengingat Tan Peng Nio?
Sebagai penulis, saya merenungkan satu hal: sejarah sering kali ditulis oleh pemenang, namun ingatan dijaga oleh hati masyarakat. Menemukan kembali kisah Tan Peng Nio bagi saya bukan sekadar urusan menggali arsip kusam atau membicarakan dikotomi etnis. Ini adalah tentang menghargai kemanusiaan yang melampaui sekat-sekat identitas.
Sering kali kita terjebak dalam perdebatan “siapa yang paling berjasa” bagi negeri ini, hingga kita lupa bahwa di masa lalu, nenek moyang kita—baik yang berdarah Jawa, Tionghoa, Arab, maupun etnis lainnya—pernah duduk di satu tenda perjuangan yang sama, berbagi peluru dan harapan yang serupa. Tan Peng Nio adalah bukti hidup bahwa nasionalisme tidak butuh sertifikat kelahiran, melainkan butuh pembuktian melalui pengabdian.
Mungkin beliau tidak memiliki monumen megah di ibu kota, namun namanya abadi dalam setiap jengkal tanah Kebumen dan dalam ingatan mereka yang mencintai kejujuran sejarah. Dengan mengangkat kembali kisahnya di blog ini, saya berharap kita tidak lagi melihat sejarah sebagai potongan-potongan yang terpisah, melainkan sebagai sebuah mosaik besar yang utuh.
Mari kita berhenti melihat masa lalu sebagai alat politik untuk memecah belah. Sebaliknya, mari kita jadikan kisah “Mulan van Java” ini sebagai pengingat: bahwa di hadapan penindasan, keberanian tidak mengenal etnis. Tan Peng Nio telah menunaikan tugasnya ratusan tahun lalu; sekarang tugas kita adalah memastikan pengorbanannya tidak lagi “tertelan” oleh waktu.
Bagaimana pendapat Anda tentang sosok Tan Peng Nio? Apakah di daerah Anda juga ada pahlawan lokal yang jarang terdengar? Mari berdiskusi di kolom komentar.
