Tan Malaka dan Sejarah yang Sengaja Diheningkan di Negeri Sendiri

Tan Malaka dan Sejarah yang Sengaja Diheningkan di Negeri Sendiri

Nama Besar yang Lama Menghilang dari Ingatan Bangsa

Dalam sejarah pergerakan Indonesia, nama Tan Malaka seharusnya berdiri sejajar dengan tokoh-tokoh besar lainnya. Ia hadir sejak awal pergulatan ide kemerdekaan, aktif dalam gerakan internasional, dan menulis gagasan radikal tentang Indonesia yang merdeka sepenuhnya. Namun, bagi banyak orang, Tan Malaka justru terasa asing—tidak akrab, jarang disebut, dan lama tak mendapat tempat dalam narasi resmi.

Keheningan terhadap Tan Malaka bukan terjadi tanpa sebab. Ia bukan tokoh yang mudah dirapikan dalam bingkai pahlawan yang nyaman. Pemikirannya tajam, sikapnya keras terhadap kompromi, dan jalur perjuangannya kerap berada di luar arus utama kekuasaan.

Peran Tan Malaka dalam Pergerakan Kemerdekaan

Tan Malaka bukan hanya aktivis, tetapi juga pemikir dan organisator. Ia terlibat dalam berbagai gerakan anti-kolonial, baik di dalam maupun luar negeri. Gagasannya tentang kemerdekaan Indonesia sudah muncul jauh sebelum proklamasi 1945, bahkan ketika wacana “Indonesia merdeka” masih dianggap utopis oleh banyak pihak.

Melalui tulisan dan aktivitas politiknya, Tan Malaka mendorong kemerdekaan yang tidak setengah-setengah. Ia menolak dominasi kolonial dalam bentuk apa pun dan bersikap kritis terhadap kompromi politik yang menurutnya berpotensi mengkhianati cita-cita rakyat.


Mengingat Tan Malaka untuk Menjaga Nalar
Tan Malaka mengajarkan bahwa kemerdekaan bukan hanya peristiwa, tetapi juga proses berpikir. Bahwa nalar harus dijaga, bahkan ketika ia berseberangan dengan arus utama.

Mengapa Tan Malaka Tidak Nyaman bagi Sejarah Resmi

Sejarah tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi juga memilih narasi. Dalam proses itu, tokoh-tokoh yang dianggap “tidak selaras” sering kali disingkirkan. Tan Malaka adalah salah satunya. Pemikirannya yang radikal, kedekatannya dengan gerakan kiri, serta posisinya yang kerap berseberangan dengan kekuasaan pasca-kemerdekaan membuat namanya sulit diterima dalam sejarah versi resmi. Ia tidak mudah dijadikan simbol yang aman, apalagi ikon nasional yang steril dari konflik ideologis. Akibatnya, Tan Malaka lebih sering diheningkan daripada dibahas secara utuh.

Pengasingan, Kesunyian, dan Akhir yang Tragis

Hidup Tan Malaka diwarnai pengasingan panjang. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, hidup dalam bayang-bayang pengejaran, dan sering kali terputus dari tanah air yang ia perjuangkan.

Akhir hidupnya pun tidak megah. Tan Malaka wafat dalam kesunyian, jauh dari penghormatan yang layak diterima seorang tokoh besar. Kisah ini memperlihatkan betapa sejarah bisa berlaku kejam: menggunakan jasa seseorang, lalu melupakannya ketika ia tak lagi sesuai dengan kebutuhan narasi.

Sejarah, Lupa, dan Kepentingan Kekuasaan

Kasus Tan Malaka menunjukkan bahwa lupa bukan selalu kebetulan. Ia bisa menjadi hasil dari pilihan politik, ideologis, bahkan strategis. Sejarah yang diajarkan secara selektif berpotensi melahirkan generasi yang hanya mengenal potongan-potongan masa lalu.

Dengan melupakan tokoh seperti Tan Malaka, bangsa kehilangan kesempatan untuk memahami keragaman gagasan yang pernah hidup dalam perjuangan kemerdekaan.


Tan Malaka pernah menulis dalam Madilog bahwa,
“Tujuan berpikir ialah mencari kebenaran dengan tidak terikat oleh dogma.”


Mengingat Tan Malaka untuk Menjaga Nalar

Mengingat Tan Malaka bukan berarti mengkultuskannya, apalagi mengabaikan kontroversi yang menyertainya. Justru sebaliknya: mengingatnya adalah upaya untuk membaca sejarah secara lebih jujur dan utuh.

Tan Malaka mengajarkan bahwa kemerdekaan bukan hanya peristiwa, tetapi juga proses berpikir. Bahwa nalar harus dijaga, bahkan ketika ia berseberangan dengan arus utama. Dalam konteks hari ini, membaca ulang Tan Malaka adalah cara untuk bertanya: siapa yang kita ingat, siapa yang kita lupakan, dan mengapa. Karena sejarah yang sehat bukan sejarah yang sunyi dari perbedaan, melainkan sejarah yang berani menghadapi kompleksitasnya sendiri.

Membaca ulang Tan Malaka berarti juga mengajukan pertanyaan lebih besar tentang siapa yang diingat, siapa yang dihilangkan dalam sejarah Indonesia, dan mengapa proses lupa itu bisa berlangsung begitu lama.

Tan Malaka bukan satu-satunya tokoh yang mengalami keheningan sejarah; dalam pergerakan nasional, ada pula tokoh pergerakan buruh yang dihilangkan dari sejarah resmi seperti Semaun, yang kontribusinya jarang dibicarakan secara utuh.


“Mengapa Banyak Tokoh Bersejarah Tidak Pernah Kita Kenal?”


Untuk pembaca yang ingin melihat ringkasan visual tentang Tan Malaka, Penakarsa juga menautkan video pendek dari kanal Lentera Sejarah yang membahas jejak dan peran Tan Malaka dalam pergerakan Indonesia. Ringkasan visual Tan Malaka oleh Lentera Sejarah

 

error: Content is protected !!