Politik Lupa membuat Sejarah Hanya Sekadar Catatan Masa Lalu
Banyak orang menganggap sejarah sebagai kumpulan fakta yang netral dan tak terbantahkan. Padahal, sejarah bukan hanya soal apa yang terjadi, tetapi juga tentang apa yang dipilih untuk diceritakan. Dalam proses penulisan dan pengajaran sejarah, selalu ada seleksi: peristiwa mana yang diangkat, tokoh mana yang dikenang, dan cerita mana yang perlahan dibiarkan sunyi.
Di titik inilah sejarah berhenti menjadi sekadar arsip, dan mulai bersinggungan dengan kepentingan.
Politik Lupa sebagai Bagian dari Narasi Sejarah
Politik lupa bukan berarti melupakan secara tidak sengaja. Ia sering kali bekerja secara halus, sistematis, dan berlangsung lama. Tokoh atau peristiwa yang dianggap tidak sejalan dengan narasi resmi, ideologi dominan, atau kepentingan kekuasaan cenderung disisihkan dari ingatan publik.
Nama-nama tertentu tetap hidup melalui buku pelajaran, monumen, dan peringatan nasional. Sementara yang lain perlahan menghilang—bukan karena perannya kecil, tetapi karena keberadaannya dianggap “tidak nyaman” untuk diingat.
Siapa yang Diingat, dan Mengapa?
Tokoh yang layak untuk diingat biasanya memenuhi beberapa syarat: mudah disederhanakan, aman secara politik, dan cocok dijadikan simbol persatuan. Mereka bisa diarahkan dalam narasi heroik yang rapi, tanpa terlalu banyak menimbulkan konflik atau pertanyaan lanjutan.
Sebaliknya, bagi tokoh idealis yang kritis, radikal, atau memiliki gagasan yang melampaui zamannya sering kali sulit dimasukkan ke dalam cerita resmi. Kompleksitas atau aktivitas mereka dianggap berisiko, sehingga lebih baik dihilangkan daripada dijelaskan.
Tokoh yang Dihilangkan dan Sejarah yang Tidak Utuh
Ketika sejarah tokoh-tokoh tertentu dengan sengaja dihilangkan dari narasi sejarah, yang hilang bukan hanya nama, tetapi juga gagasan dan cara berpikir, ikut hilang, terhembus angin lupa!. Sejarahnya mendadak menjadi versi yang dipermudah, serta kehilangan kedalaman makna, dan menjauh dari realitas perdebatan yang sebenarnya pernah ada.
Akibatnya, generasi berikutnya mewarisi sejarah yang rapi namun tidak utuh, juga miskin pertanyaan. Kita mengenal hasil akhir, tetapi jarang diajak memahami proses, konflik, dan perbedaan pandangan yang membentuk sejarahnya.
Membaca Ulang Sejarah sebagai Upaya Menjaga Nalar
Mengingat tokoh yang pernah disenyapkan bukan berarti membenarkan atau menyetujui semua gagasannya. Ini bukan soal mengkultuskan, tetapi tentang keberanian membaca atau menata ulang sejarah secara lebih jujur dan berani. Dengan memahami siapa yang dilupakan dan mengapa disenyapkan, kita belajar bahwa sejarah selalu terbuka untuk ditafsirkan ulang.

Dalam konteks inilah kisah tokoh-tokoh pergerakan yang lama diheningkan—seperti Tan Malaka—menjadi penting untuk dibaca kembali. Bukan hanya untuk mengenal masa lalu, tetapi untuk menjaga nalar agar tidak tumbuh dari ingatan yang timpang.
Karena sejarah yang sehat bukan sejarah yang sunyi dari perbedaan, melainkan sejarah yang berani mengakui bahwa lupa pun bisa menjadi bagian dari kekuasaan.
