Mengapa Banyak Tokoh Bersejarah Tidak Pernah Kita Kenal?

Mengapa Banyak Tokoh Bersejarah Tidak Pernah Kita Kenal?

Sejarah yang Kita Baca Tidak Pernah Sepenuhnya Utuh.

Dalam banyak buku pelajaran dan narasi populer, sejarah sering tampil rapi: tokoh besar, peristiwa penting, dan hasil akhir yang seolah tak terbantahkan. Namun, di balik narasi yang tertata itu, ada banyak nama dan kisah yang nyaris tak pernah disebut. Bukan karena mereka tidak penting, melainkan karena sejarah tidak selalu ditulis untuk mengingat semuanya.

Sejarah sebagai Hasil Seleksi Kekuasaan

Sejarah, pada dasarnya, adalah hasil seleksi. Ia memilih apa yang dianggap layak dicatat dan apa yang boleh dilupakan. Dalam proses ini, kekuasaan memiliki peran besar. Siapa yang menang perang, siapa yang menguasai arsip, dan siapa yang memiliki suara dominan sering kali menentukan cerita mana yang diwariskan ke generasi berikutnya.

Tokoh Penting yang Tersingkir dari Ingatan Publik

Akibatnya, banyak tokoh yang perannya krusial justru berada di pinggir ingatan kolektif. Ada pemimpin yang dijatuhkan secara senyap, penguasa yang kehilangan negerinya tanpa dentuman senjata, atau individu yang kehadirannya mengubah tatanan sosial, tetapi tidak pernah dielu-elukan sebagai pahlawan. Mereka ada, bekerja, dan memberi dampak, namun kisahnya tenggelam di balik narasi besar yang lebih nyaman diceritakan.

Mengapa Narasi Dominan Menghapus Kisah Tertentu

Fenomena ini bukan sekadar soal “kurang populer”. Ia berkaitan erat dengan cara sejarah dibingkai. Tokoh yang dianggap mengganggu kepentingan geopolitik, tidak sesuai dengan mitos nasional, atau terlalu rumit untuk disederhanakan, sering kali dipinggirkan. Padahal, justru dari kisah-kisah inilah kita bisa melihat sejarah secara lebih utuh dan manusiawi.

Membaca Ulang Tokoh-Tokoh yang Terpinggirkan

Di Penakarsa, beberapa tulisan mencoba menelusuri jejak tokoh-tokoh semacam ini. Misalnya, kisah Mohammad Mossadegh, perdana menteri Iran yang dijatuhkan melalui operasi rahasia karena keberaniannya menantang kepentingan asing. Atau Queen Liliʻuokalani, penguasa terakhir Hawaii yang kehilangan negerinya tanpa perang terbuka, tetapi melalui intrik politik dan ekonomi. Ada pula cerita Michiko Shoda, seorang perempuan dari kalangan biasa yang mengguncang tradisi Kekaisaran Jepang hanya dengan menjadi dirinya sendiri. Selain itu, Penakarsa juga menyoroti Alan Turing, sosok jenius di balik keberhasilan memecahkan sandi Nazi, yang jasanya nyaris terhapus oleh stigma, diskriminasi, dan perlakuan tidak adil dari negaranya sendiri.

Benang Merah di Balik Kisah Tokoh yang Dilupakan

Ketiganya berasal dari konteks yang berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: mereka hadir dalam sejarah, namun tidak selalu diberi ruang yang adil dalam ingatan publik. Membaca kisah mereka bukan sekadar mengenal tokoh baru, melainkan juga belajar bagaimana sejarah bekerja—apa yang ditampilkan, apa yang disembunyikan, dan mengapa.

Mengapa Mengingat yang Terlupakan Itu Penting

Memahami sejarah dengan cara ini membantu kita menyadari bahwa lupa bukanlah sesuatu yang netral. Ia bisa menjadi hasil dari pilihan, bahkan strategi. Dengan membaca ulang kisah-kisah yang terpinggirkan, kita tidak sedang mencari siapa yang paling benar, melainkan berusaha menjaga nalar agar tidak hanya menerima sejarah sebagaimana ia disajikan.

 

error: Content is protected !!