Mendidik Anak Tanpa Marah – Kisah Seorang Ibu Muda yang Mencari Jawaban
Saat matahari mulai meredam panasnya di Jakarta, Maya (32 tahun) duduk di sudut kedai kopi kecil dekat rumahnya. Wajahnya tampak lesu sambil mengocok gelas teh hangat di depannya. Tak lama kemudian, sahabatnya, Rina (34 tahun), datang dan langsung duduk di depan dia.
“Kok kayak gitu aja ya, May? Kayaknya ada beban berat banget di dada kamu,” ujar Rina sambil memanggil pelayan untuk memesan minuman.
Maya menghela napas panjang.

“Ya nih, Rin… Aku merasa sangat gelisah akhir-akhir ini. Anakku, Rafi yang sudah 10 tahun, selalu bikin aku marah saat mendidiknya. Kemarin aja, dia lupa bawa buku pelajaran ke sekolah untuk ujian harian, padahal aku sudah mengingatkan berkali-kali. Akhirnya aku marah sama dia, sampai dia nangis. Setelah itu aku merasa sangat bersalah, tapi besoknya Dia masih mengulang lagi kesalahannya.”
Rina mengangguk dengan penuh pengertian.
“Waduh, May… Aku paham banget rasanya. Kadang kayak ada benang kecil yang terus-terusan ditarik, sampai akhirnya kita tidak bisa tahan dan marah. Padahal kita tahu, marah tidak pernah menyelesaikan masalah kan?”
“Betul banget, Rin! Aku juga khawatir kalau Rafi akan jadi anak yang takut sama aku, atau malah jadi anak yang menutup diri. Aku benar-benar ingin mencari cara bagaimana mendidik anak tanpa marah, tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana,” ujar Maya dengan suara sedikit getar.
Rina mengambil gelas jus jeruk yang baru saja datang, lalu menjelaskan dengan tenang.
“Aku juga pernah mengalami hal yang sama lho, May. Dulu setiap kali anakku nakal, aku langsung naik darah. Tapi kemudian aku menemukan solusi yang bantu banget – ada sebuah E-Book parenting berjudul ‘Mendidik Anak Tanpa Marah’ yang aku baca beberapa bulan lalu.”
“E-Book? Dimana kamu dapetnya, Rin? Aku butuh banget tipsnya,” ujar Maya dengan mata yang mulai bersinar harap.
“Yaudah nanti aku kasih link E-booknya, ini nih beberapa hal yang aku pelajari dari buku itu,” jelas Rina.
“Pertama, berhenti sejenak sebelum marah. Kalau rasanya mau marah, aku segera pergi ke kamar lain atau hanya diam sejenak sambil menarik napas dalam-dalam. Ini buat aku bisa berpikir jernih sebelum bicara.”
“Kedua, cari tahu penyebab tingkah anak. Kadang anak tidak sengaja membuat kesalahan, atau mungkin dia sedang mengalami kesulitan di sekolah atau ada masalah yang dia tidak bisa ceritakan. Buku itu juga ngajarin cara bikin anak nyaman untuk cerita sama kita, bukan langsung dimarahi ya?”
“Ketiga, gunakan bahasa yang positif dan lugas. Misalnya bukan bilang ‘Kamu selalu lupa!’ tapi lebih baik bilang ‘Kita harus membuat catatan agar tidak lupa bawa barang penting ya, sayang.’ Begitu anak merasa tidak disalahkan secara langsung, dia akan lebih mau mendengarkan.”
Maya mengangguk perlahan sambil mencatat setiap ucapan Rina.
“Wah, itu kayaknya masuk akal banget ya, Rin. Aku belum pernah berpikir untuk mencari tahu penyebab tingkah Rafi. Mungkin dia juga sedang merasa tertekan dengan tugas sekolah yang semakin banyak.”
“Betul sekali, May. Selain itu, buku itu juga ngajarin kita untuk menerima bahwa anak pasti akan membuat kesalahan. Mereka sedang belajar tumbuh dan menjadi orang dewasa. Kalau kita selalu marah, mereka akan takut untuk mencoba hal baru atau bahkan takut untuk bilang benar,” tambah Rina.
“Ada banyak tips lain yang lebih lengkap di situ lho – mulai dari cara mengatur komunikasi dengan anak, menangani masalah khusus seperti kecanduan gadget, sampai cara bikin rutinitas harian yang menyenangkan buat anak dan orang tua.”
“Terima kasih banyak ya, Rin. Sekarang aku merasa lebih lega dan punya arahan untuk memperbaiki cara mendidik Rafi. Nanti malam aku akan ajak dia ngobrol dengan tenang, dan aku juga mau beli E-Book ‘Mendidik Anak Tanpa Marah’ itu sekarang juga,” ujar Maya dengan wajah yang sudah lebih ceria.
Rina tersenyum hangat.
“Semoga berhasil ya, May. E-Booknya bisa dibeli secara online melalui situs resmi penerbit atau marketplace terkenal, lho. Banyak ibu muda lain juga sudah merasakan manfaatnya. Ingat ya, merubah cara mendidik butuh waktu dan kesabaran – buku itu juga ngajarin kita bagaimana tidak terlalu keras sama diri sendiri juga ya.”

Beberapa minggu kemudian, Maya dan Rafi sudah punya hubungan yang jauh lebih hangat. Mereka sering ngobrol bersama, membuat rencana harian bersama, dan kesalahan yang dulu bikin Maya marah kini jadi kesempatan untuk belajar bersama. Maya pun sering berbagi pengalamannya dengan ibu muda lain dan selalu merekomendasikan E-Book ‘Mendidik Anak Tanpa Marah’ sebagai panduan praktis untuk mengatasi tantangan mendidik anak di era sekarang.
Link E-Book – Hypnoheart Parenting: Seni mendidik anak, Tanpa Marah.
