Marsinah dan Sejarah Kekerasan terhadap Gerakan Buruh

Marsinah dan Sejarah Kekerasan terhadap Gerakan Buruh

Gerakan Buruh dan Sejarah yang Berulang

Marsinah dalam sejarah pergerakan Buruh di Indonesia, selalu hadir sebagai tokoh penting dari perjuangan Buruh bukan hanya sebagai buruh, tetapi juga manusia yang hidup di dalam struktur ekonomi yang sering kali timpang. Namun, setiap kali buruh mulai bersuara, sejarah mencatat bahwa respons yang datang tidak selalu berupa dialog. Kadang justru berupa represi, pembungkaman, bahkan kekerasan.

Gerakan buruh, sejak masa kolonial hingga era modern, kerap dipandang sebagai ancaman. Bukan karena tuntutannya selalu salah, tetapi karena suara kolektif buruh mampu mengguncang tatanan yang selama ini dianggap stabil.

Marsinah dalam Konteks Perlawanan Buruh Orde Baru

Marsinah muncul dalam salah satu periode paling sunyi dalam sejarah kebebasan berserikat di Indonesia: masa Orde Baru. Pada era ini, stabilitas politik sering ditempatkan di atas hak-hak sipil. Buruh ada, bekerja, tetapi ruang untuk menuntut keadilan sangat sempit.

Marsinah adalah buruh perempuan muda yang terlibat dalam perjuangan upah dan hak pekerja. Ia bukan tokoh politik besar, bukan pemimpin partai, melainkan bagian dari rakyat biasa yang berani menyuarakan sesuatu yang seharusnya wajar: keadilan dalam kerja.

Namun justru keberanian sederhana itu yang membuat namanya kemudian menjadi simbol.


Baca Artikel : Politik Lupa dalam Sejarah Indonesia: Siapa yang Diingat, Siapa yang Dihilangkan?


Dari Tuntutan Upah ke Kekerasan yang Membungkam

Kasus Marsinah bermula dari tuntutan buruh terhadap hak normatif dan kenaikan upah. Dalam konteks demokrasi, tuntutan seperti ini seharusnya menjadi bagian dari proses sosial yang normal. Tetapi pada masa itu, suara buruh sering dicurigai, diawasi, bahkan ditekan.

Marsinah kemudian ditemukan meninggal dalam kondisi tragis. Peristiwa ini mengguncang publik dan menjadi salah satu simbol paling gelap dalam sejarah perburuhan Indonesia. Yang menyakitkan bukan hanya kehilangan nyawa seorang buruh, tetapi juga pesan yang tersirat: bahwa ada harga mahal bagi mereka yang berani bersuara.

Marsinah bukan hanya disenyapkan—ia dihilangkan.


 

Bukan hanya hilangnya nyawa seorang buruh, tetapi juga pesan yang tersirat: bahwa keberanian bersuara bisa dibayar mahal.

Kasus yang Tidak Pernah Benar-Benar Tuntas

Salah satu hal yang membuat Marsinah terus hidup dalam ingatan adalah karena kasusnya tidak pernah sepenuhnya selesai secara moral maupun sejarah. Ada banyak pertanyaan yang tertinggal, banyak kabut yang tidak pernah benar-benar disibakkan.

Dalam sejarah Indonesia, beberapa peristiwa tidak selesai bukan karena kurang bukti semata, tetapi karena ada struktur kekuasaan yang membuat penyelesaian menjadi rumit. Marsinah menjadi contoh bagaimana keadilan bisa tertunda, dan ingatan publik dipaksa untuk menerima ketidakjelasan.

Lupa sebagai Kelanjutan dari Kekerasan

Kekerasan tidak selalu berakhir ketika tubuh berhenti bergerak. Dalam banyak kasus, kekerasan berlanjut melalui lupa. Ketika sebuah tragedi tidak dibicarakan, ketika namanya tidak diajarkan, ketika kisahnya dianggap terlalu “sensitif”, maka pembungkaman terjadi untuk kedua kalinya.

Di sinilah politik lupa bekerja. Marsinah bukan hanya soal satu individu, tetapi soal bagaimana sejarah buruh sering ditempatkan di pinggir narasi besar bangsa. Sama seperti tokoh-tokoh pergerakan buruh awal seperti Semaun, kisah-kisah buruh modern pun kerap tidak diberi ruang yang adil dalam ingatan kolektif. 


Baca Juga Artikel: sejarah gerakan buruh sejak masa kolonial


Mengingat Marsinah untuk Menjaga Nalar

Mengingat Marsinah bukan berarti memelihara dendam, tetapi menjaga kewarasan sejarah. Sebab bangsa yang sehat adalah bangsa yang berani mengingat luka-lukanya, bukan hanya merayakan kemenangan.

Marsinah mengingatkan kita bahwa perjuangan buruh bukan sekadar soal ekonomi, tetapi soal martabat manusia. Dan bahwa keadilan sosial tidak pernah lahir dari keheningan, melainkan dari keberanian untuk bersuara.

Pada akhirnya, meski terlambat, negara mulai mengakui Marsinah sebagai simbol perjuangan buruh dan memberikan penghormatan atas namanya. Pengakuan ini mungkin tidak menghapus tragedi, tetapi setidaknya menjadi penanda bahwa ingatan tidak sepenuhnya kalah.

Karena dalam sejarah, yang paling mematikan bukan hanya kekerasan… tetapi lupa.


Mulai Minggu Depan – Penakarsa akan terbit setiap Senin, Rabu, dan Jumat
ruang kecil untuk membedah fakta dan menjaga nalar secara perlahan dan konsisten.


error: Content is protected !!