Kudeta Iran 1953, Mossadegh dan Operasi Sunyi CIA: Ketika Demokrasi Dibungkam oleh Kepentingan Besar
Sejarah sering mengenang perang besar dengan bunyi dentuman meriam dan barisan pasukan. Namun, ada peristiwa yang jauh lebih sunyi, namun dampaknya bergema puluhan tahun kemudian. Salah satunya adalah kudeta Iran 1953 — sebuah operasi yang menggulingkan pemerintahan yang terpilih secara demokratis tanpa pertempuran besar, dan menjadi salah satu contoh paling jelas bagaimana kekuatan asing dapat mengintervensi negara lain lewat jalan tersembunyi.
Siapa Mohammad Mossadegh? Sosok di Balik Nasionalisasi Minyak
Mohammad Mossadegh adalah tokoh nasionalis Iran yang menjadi Perdana Menteri pada awal 1950-an. Ia dikenal luas karena keberaniannya menasionalisasi industri minyak Iran, yang sebelumnya dikuasai oleh perusahaan asing, khususnya Anglo-Iranian Oil Company (AIOC) milik Inggris. Langkah ini ia ambil sebagai bentuk kedaulatan atas sumber daya nasional dan sebagai jawaban atas eksploitasi kekayaan alam Iran selama puluhan tahun.
Bagi banyak rakyat Iran, nasionalisasi minyak adalah upaya untuk memanfaatkan kekayaan alam demi kemakmuran rakyat, bukan untuk keuntungan perusahaan asing. Namun, langkah ini justru memicu reaksi ekonomi dan politik yang serius dari kekuatan besar dunia.
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/7/7f/Portrait_of_Mohammad_Mosaddegh_-_circa_1952.jpg
Operasi Ajax: Kudeta Sunyi yang Dirancang Intelijen
Reaksi Barat terhadap nasionalisasi minyak Iran, sangat cepat dan terkoordinasi. Inggris yang kehilangan akses atas sumber daya minyaknya menekan Amerika Serikat untuk ikut campur dalam urusan Iran, dengan dalih bahwa ketidakstabilan negara itu dapat membuka peluang bagi pengaruh Uni Soviet di tengah Perang Dingin.
Berkat tekanan tersebut, Inggris dan AS merancang sebuah operasi rahasia untuk menggulingkan Mossadegh yang dikenal sebagai Operation Ajax (dalam catatan CIA) dan Operation Boot (versi Inggris). CIA, dengan dukungan agen intelijen Inggris MI6, menjalankan rencana ini secara terselubung — menggunakan propaganda, manipulasi massa, dan pembiayaan kelompok yang pro-monarki.
Strategi ini bukan perang besar dengan pasukan militer di medan tempur, melainkan manipulasi politik yang disenyiakkan, sehingga masyarakat biasa sering tidak menyadari apa yang sedang terjadi di balik layar.
Saat Demokrasi Dibungkam
Pada 19 Agustus 1953, situasi politik Iran mencapai puncaknya. Pasukan dan demonstran yang didukung oleh agen asing dan kelompok pro-Shah turun ke jalan, bentrokan terjadi di Teheran, dan pemerintah Mossadegh runtuh. Menteri Luar Negeri Hossein Fatemi dan banyak pendukungnya ditangkap atau dibasmi.
Dalam beberapa hari, pemerintahan baru dibentuk di bawah Jenderal Fazlollah Zahedi. Sementara itu, Shah Iran — Mohammad Reza Pahlavi — kembali ke negara dan memimpin dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat. Mossadegh sendiri ditangkap dan diadili atas tuduhan pengkhianatan. Ia dijatuhi hukuman tiga tahun penjara, kemudian ditempatkan di bawah tahanan rumah hingga akhir hayatnya.

Mengapa Kudeta Ini Terjadi? Kepentingan Minyak, Kekuasaan, dan Ideologi
Di balik kudeta sunyi ini terdapat beberapa motif besar:
1. Kepentingan Minyak dan Ekonomi
Nasionalisasi minyak oleh Mossadegh mengancam dominasi kekuatan Barat terhadap industri minyak Iran. Inggris dan kemudian Amerika Serikat khawatir kehilangan akses atas sumber daya strategis ini.
2. Kekhawatiran terhadap Pengaruh Komunis
Dalam konteks Perang Dingin, Mosaddegh sering dilukiskan oleh Barat sebagai figur yang bisa membuka jalur kepada komunisme, meskipun ia sendiri bukan komunis. Dalih ini digunakan untuk membenarkan intervensi atas nama “melawan komunisme.”
3. Kepentingan Geopolitik Amerika dan Inggris
Operasi rahasia tersebut menggambarkan bagaimana negara besar menggunakan intelijen dan kekuatan politik untuk mempertahankan pengaruhnya di wilayah strategis, tanpa perlu perang terbuka.
Ini adalah contoh klasik bagaimana kekuatan besar memaksa negara kecil untuk “mengingat posisi mereka”—suatu kenyataan yang sering dibungkam dalam narasi resmi sejarah dunia.
Dampak Jangka Panjang: Dari Monarki ke Revolusi
Setelah kudeta, Shah Pahlavi berkuasa dengan dukungan Amerika dan Inggris, memerintah Iran sebagai monarki otoriter selama lebih dari dua dekade. Ia menjalankan program modernisasi besar-besaran yang disebut Revolusi Putih, namun juga menindak keras oposisi, termasuk melalui organisasi keamanan seperti SAVAK.
Kudeta 1953 kemudian menjadi salah satu akar ketidakpercayaan Iran terhadap Barat, sebuah luka sejarah yang tak kunjung sembuh dan berkontribusi pada kebangkitan Revolusi Islam Iran pada 1979, ketika monarki Pahlavi akhirnya digulingkan dan digantikan oleh Republik Islam.
Kesunyian yang Tak Terlupakan
Kudeta Iran 1953 bukan perang besar yang bergemuruh di buku teks sejarah. Ia adalah peristiwa sunyi — sebuah operasi politik rahasia yang menutup pintu demokrasi tanpa pukulan meriam, tetapi dengan dokumen, propaganda, dan kepungan kepentingan geopolitik.
Dari sudut pandang Penakarsa, kudeta ini adalah pengingat bahwa sejarah tidak hanya dibentuk oleh pahlawan atau pasukan, tetapi juga oleh keputusan yang tidak terlihat, oleh tangan yang bekerja di balik tirai kekuasaan, dan oleh pikiran yang diam ketika nalar seharusnya berbicara.
Baca Juga: Queen Liliʻuokalani: Hawaii Hilang Tanpa Perang

Ketika Demokrasi Direm dan Lupa Berkembang
Kudeta Mossadegh bukan sekadar episode sejarah Iran. Ini adalah cermin bahwa kekuatan besar bisa menekan demokrasi tanpa kebisingan perang, dan bahwa sejarah sering dibisikkan, bukan dibentangkan. Dan ketika sejarah dibisikkan, lupa berkembang. Penakarsa hadir untuk menyalakan cahaya nalar di tempat-tempat yang sunyi seperti ini.
Baca Juga Narasi Sejarah: Mengapa Banyak Tokoh Bersejarah Tidak Pernah Kita Kenal?
