Di negeri yang sejarahnya sering ditulis oleh para pemenang, kejujuran terkadang dianggap sebagai ancaman. Jika kita mencari sosok pahlawan, kita sering disuguhi nama-nama penakluk atau politisi ulung. Namun, ada satu nama yang “mengecil” dalam catatan resmi karena integritasnya yang terlalu raksasa bagi sistem yang korup: Hoegeng Iman Santoso.

Musuh dalam Selimut Sistem
Hoegeng bukan sekadar Kapolri (1968-1971). Beliau adalah fenomena. Bayangkan seorang pejabat tinggi yang menutup toko bunga istrinya hanya karena takut terjadi benturan kepentingan. Atau seorang Jenderal yang turun ke jalan mengatur lalu lintas saat macet tanpa pengawalan. Bagi Hoegeng, jabatan bukan alat pemupuk kekayaan, melainkan amanah yang harus dijaga sampai ke titik nol.
Baca Artikel : Politik Lupa dalam Sejarah Indonesia: Siapa yang Diingat, Siapa yang Dihilangkan?
Kasus Sum Kuning dan “Luka” Orde Baru
Kenapa narasi Hoegeng seolah dikaburkan? Jawabannya ada pada keberaniannya membongkar kasus-kasus sensitif, salah satunya tragedi Sum Kuning. Saat Hoegeng mencoba menyeret anak-anak pejabat tinggi ke meja hijau, ia justru berhadapan dengan tembok tebal kekuasaan. Ia tidak bisa disuap, maka pilihannya hanya satu bagi penguasa saat itu: Singkirkan dia.
Hidup Melarat tapi Bermartabat
Pensiun dari Kapolri di usia muda, Hoegeng tidak mendapatkan rumah mewah atau fasilitas jet. Ia keluar dengan kepala tegak, meski harus menyambung hidup dengan melukis dan bermain musik Hawaiian. Inilah alasan kenapa tokoh seperti beliau jarang “digoreng” oleh narasi sejarah pemenang; karena eksistensi Hoegeng adalah sindiran keras bagi setiap penguasa yang tamak.
Kita perlu bertanya kembali: Apakah kita tidak mengenal tokoh seperti Hoegeng karena beliau tidak berjasa, atau karena kita memang tidak siap memiliki standar moral setinggi beliau? Di Penakarsa, kita tidak hanya membedah fakta, tapi menjaga nalar agar kejujuran seperti ini tidak hilang ditelan zaman.
