Che Guevara dan Tan Malaka, di Akhir Sunyi Perjuangan
Sejarah sering kali mempertemukan jiwa-jiwa hebat bukan di meja diplomasi, melainkan di dalam sunyinya belantara. Di satu sisi dunia, tepatnya di hutan La Higuera, Bolivia, seorang dokter asal Argentina bernama Ernesto ‘Che’ Guevara mengembuskan napas terakhir di depan regu tembak pada 1967.
Dua orang ini memiliki satu visi yang mengerikan bagi penjajah: Kemerdekaan 100%. Tan Malaka menolak kompromi dalam diplomasi, sebagaimana Che menolak tunduk pada imperialisme global melalui strategi gerilya. Bertahun-tahun sebelum eksekusi Che, tepatnya pada 1949 di sisi dunia yang lain, di tengah rimbunnya hutan Selopanggung, Kediri, Tan Malaka telah lebih dulu mengalami takdir yang hampir sama: dieksekusi oleh bangsanya sendiri. Dua tokoh besar, dua benua berbeda, namun satu algoritma perlawanan yang identik.
Sang Pengembara dan Teori Sunyi “Gerilya”
Che Guevara dan Tan Malaka bukan tipe revolusioner yang suka duduk manis di balik meja kekuasaan. Mereka adalah pejuang lapangan. Che Guevara dengan motornya bergerilya melintasi Amerika Latin untuk memahami penderitaan rakyat, sementara Tan Malaka berkelana melintasi benua Asia-Eropa dengan puluhan nama samaran untuk menanam benih kemerdekaan.

Keduanya sama-sama percaya bahwa perubahan besar hanya bisa lahir dari akar rumput dan mobilisasi massa di wilayah-wilayah yang tak terjangkau radar penguasa. Jika Che punya teori Foco (pusat gerilya), Tan punya konsep Massa Aksi. Mereka adalah arsitek perlawanan yang memahami bahwa hutan bukan sekadar tempat sembunyi, melainkan “benteng” ideologi.

Eksekusi: Ketika Hutan Menjadi Saksi Bisu
Ada kesamaan yang menyayat hati dari akhir hidup mereka. Keduanya dieksekusi tanpa pengadilan yang layak. Che dieksekusi oleh tentara Bolivia (yang didukung CIA) di sebuah sekolah desa kecil di tengah hutan. Tan Malaka dieksekusi oleh tentara dari negara yang ia bantu bangun pondasinya, di sebuah desa terpencil di lereng Gunung Wilis.
Regu tembak adalah “hadiah” terakhir yang diterima oleh mereka yang terlalu jujur dalam berjuang. Menariknya, keduanya menghadapi maut dengan kepala tegak. Che kabarnya berkata kepada algojonya, “Tembak saja, kau hanya akan membunuh seorang manusia (bukan idenya).” Semangat yang sama terpancar dari Tan, yang hingga akhir hayatnya tetap teguh pada prinsip kedaulatan tanpa tapi.
Sensor Sejarah: Jasad yang “Dihilangkan”
Kenapa artikel ini masuk kategori Classified? Karena penguasa saat itu ketakutan bahkan pada jasad mereka. Jasad Che sempat disembunyikan di lokasi rahasia selama 30 tahun sebelum akhirnya ditemukan. Jasad Tan Malaka pun mengalami hal serupa; lokasinya di Selopanggung baru terkonfirmasi secara ilmiah puluhan tahun setelah kematiannya.
Menghilangkan jasad adalah upaya sistemik untuk menghentikan “ziarah nalar”. Penguasa ingin kita lupa bahwa pernah ada orang-orang yang lebih memilih mati di hutan daripada hidup nyaman sebagai budak sistem. Ini adalah pola yang juga kita temukan pada tokoh-tokoh yang sengaja dipinggirkan dari ingatan kolektif.
Baca Juga Artikel : Menghapus Jejak Munir dan Wiji Thukul Dari Narasi Sejarah
Penakarsa Insight: Garis Takdir yang Melintasi Benua
Meskipun Che dan Tan tak pernah berjabat tangan, gagasan mereka beradu dalam frekuensi yang sama. Mereka membuktikan bahwa kemerdekaan sejati butuh pengorbanan yang total—bahkan jika harus berakhir di depan moncong senapan di tengah hutan yang sepi.
Kisah mereka adalah pengingat bagi kita di Penakarsa: bahwa kebenaran sering kali ditemukan di tempat-tempat yang sengaja dijauhkan dari cahaya publik. Che di Bolivia dan Tan di Kediri adalah dua titik yang membuktikan bahwa revolusi adalah bahasa universal kemanusiaan.
Sumber Artikel ini:
-
Anderson, J. L. (1997). Che Guevara: A Revolutionary Life. (Detail on La Higuera Execution).
-
Poeze, Harry A. (2008). Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia. (Verification of Selopanggung Burial Site).
-
Declassified Documents: The CIA in Bolivia, 1967. National Security Archive.
