Queen Liliʻuokalani: Hawaii Hilang Tanpa Perang

Queen Liliʻuokalani: Hawaii Hilang Tanpa Perang

Queen Liliʻuokalani: Ratu Terakhir Hawaii yang Negaranya Hilang Tanpa Perang


Hawaii hari ini dikenal sebagai destinasi wisata tropis yang indah. Pantai biru, tarian hula, dan budaya Polinesia sering menjadi daya tarik utama. Namun, sedikit orang yang tahu bahwa Hawaii pernah menjadi sebuah kerajaan merdeka dengan pemerintahan sendiri. Di balik keindahan itu, ada sejarah yang sengaja dilupakan: kisah Queen Liliʻuokalani, ratu terakhir Hawaii.

Kerajaan Hawaii Sebelum Aneksasi Amerika

Pada abad ke-19, Kerajaan Hawaii diakui oleh banyak negara di dunia. Letaknya yang strategis di tengah Samudra Pasifik membuat Hawaii menjadi wilayah penting bagi perdagangan dan militer. Namun, posisi ini juga menjadikannya incaran kekuatan besar, terutama Amerika Serikat.

Para pengusaha asing, khususnya pemilik perkebunan gula keturunan Amerika, mulai memiliki pengaruh besar dalam politik Hawaii. Perlahan, kedaulatan kerajaan semakin terancam bukan oleh perang, melainkan oleh kepentingan ekonomi.

Queen Liliʻuokalani dan Perjuangan Mengembalikan Kedaulatan

Queen Liliʻuokalani naik takhta pada tahun 1891. Ia mewarisi kerajaan yang sudah dilemahkan oleh konstitusi paksa yang dikenal sebagai Bayonet Constitution, yang mengurangi kekuasaan monarki dan memperbesar kendali elit asing.

Liliʻuokalani berusaha menyusun konstitusi baru untuk mengembalikan hak politik rakyat asli Hawaii. Baginya, kerajaan tidak boleh dikuasai oleh kepentingan segelintir orang luar. Namun, upaya ini membuatnya dianggap sebagai ancaman oleh kelompok pro-Amerika.

Kudeta 1893: Hawaii Dijatuhkan Tanpa Perang Besar

Pada Januari 1893, sekelompok pengusaha dan politisi membentuk “Committee of Safety” dan melakukan kudeta terhadap sang ratu. Militer Amerika Serikat ikut mendarat di Honolulu, bukan untuk melindungi kerajaan, tetapi untuk mendukung perubahan kekuasaan.

Tidak ada perang besar. Tidak ada pertempuran panjang. Sebuah negara dijatuhkan melalui tekanan politik dan kekuatan asing yang bekerja di balik layar.

Aneksasi Hawaii dan Hilangnya Sebuah Bangsa

Queen Liliʻuokalani memilih menyerah demi mencegah pertumpahan darah. Ia berharap Amerika Serikat akan mengembalikan kedaulatan Hawaii. Namun harapan itu pupus. Pada tahun 1898, Hawaii resmi dianeksasi menjadi wilayah Amerika Serikat.

Kerajaan yang pernah merdeka perlahan menghilang dari peta dunia. Sejarah ini jarang dibicarakan, karena Hawaii lebih sering dipromosikan sebagai surga wisata daripada negeri yang pernah dirampas.

Warisan Liliʻuokalani: Ratapan dalam Lagu dan Sejarah

Dalam masa penahanannya, Liliʻuokalani menulis memoar dan lagu terkenal “Aloha ʻOe”, yang sering dianggap sebagai lagu perpisahan romantis. Padahal, lagu itu adalah simbol kehilangan tanah air dan kedaulatan. Queen Liliʻuokalani bukan hanya ratu terakhir Hawaii, tetapi juga simbol dari bangsa yang hilang tanpa perang besar.

Negara yang Hilang dalam Keheningan

Sejarah sering mengingat negara-negara yang runtuh dalam dentuman perang. Namun Hawaii mengajarkan sesuatu yang lebih sunyi: sebuah bangsa bisa hilang karena terlalu kecil untuk didengar, dan terlalu strategis untuk dibiarkan merdeka.


Queen Liliʻuokalani adalah pengingat bahwa kolonialisme modern tidak selalu datang dengan senjata, tetapi juga dengan kontrak, perusahaan, dan kata-kata halus yang menghapus sebuah negeri dalam diam.


Baca Juga Narasi Sejarah: Mengapa Banyak Tokoh Bersejarah Tidak Pernah Kita Kenal?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *